adriantirusli

Tentang 2019 dan 2020


Peringatan: Artikel mengandung GIF dan istilah dalam Bahasa Inggris

Mau curhat, isinya mungkin tidak terstruktur.

Pekerjaan

This image has an empty alt attribute; its file name is photo-1580894908361-967195033215
Sumber: Unsplash @thisisengineering

Kita mulai dengan pernyataan, aku mulai burn out sejak Januari 2020. Penyebab burn out itu sendiri mungkin mulai merasakan kalau tempat aku bekerja sekarang kurang mendukung aku sebagai individu yang ingin terus berkembang. Pekerjaan pun juga sudah terlihat tidak mengasyikan lagi, bukannya bermaksud sombong tapi memang begitu adanya yang aku rasakan.

Terbesit juga dipemikiranku untuk berhenti dan mencari pekerjaan yang baru tapi balik lagi ke tipikal nasehat HRD: “jangan seperti kutu loncat”. Akhirnya aku berusaha untuk bertahan sampai sekarang. Bertahan pun juga cukup menjadi sebuah tantangan lainnya. Tentu saja keadaan burn out amat sangat mempengaruhi dari sisi kualitas kerja. Aku yang tadinya bisa mengerjakan apapun dengan cepat, karena burn out menjadi lebih lambat.

Perusahaan tempat aku bekerja sebelumnya sebenarnya sudah sangat enak, lingkungan pekerjaannya juga asyik, ditambah lagi semua koleganya saling mendukung satu sama lain untuk berkembang, karena memiliki prinsip kalau human resourcenya maju pasti perusahaan juga ikut maju.

Kenapa memutuskan keluar kalau gitu?

Nah itu lain cerita lagi. Sebenarnya alasanku pindah juga sepele, yakni karena adanya kesalahpahaman yang cukup fatal yang dilakukan perusahaan tersebut kepadaku dan akhirnya tanpa berpikir panjang aku memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Aku juga memikirkan bagaimana hubunganku dengan kolega disana yang tidak hanya sekedar “teman kantor”, disitulah akhirnya aku memutuskan untuk sekalian pindah kota saja. Semua keputusan ini diambil hanya dalam waktu kurang lebih dua minggu. Cukup singkat tapi aku tidak pernah menyesal memutuskan untuk pindah.

Anyway, tentang pekerjaan ini ya aku pastinya akan mencari tambatan yang baru lagi, belum tau kapan tapi tunggu saja.

Meninggalkan Bali

This image has an empty alt attribute; its file name is photo-1571984405176-5958bd9ac31d
Sumber: Unsplash @ern

Bali. Sebuah pulau yang menjadi destinasi favorit hampir semua orang karena pesona alam dan budayanya. Memutuskan pindah dari pulau yang sangat indah ini juga menimbulkan banyak sekali pertanyaan dan pernyataan seperti dibawah ini.

Kenapa pindah dari Bali?
Orang di Jakarta maunya pada tinggal disana eh ini malah pindah.
dll.

Alasan utama aku memutuskan untuk pindah dari Bali adalah karena aku bosan, kesepian dan rasanya butuh suasana baru dan awal yang baru. Mari jabarkan ketiga alasan diatas satu persatu.

Bosan, kesepian dan rasanya butuh yang baru. Tipikal perasaan seseorang yang tidak hanya dalam hubungan percintaan (eciee) saja tapi juga dalam kehidupan yang fana ini. Ketiga poin diatas dimulai dari saat mengerjakan tugas akhir.

Alhamdulillahnya aku mendapatkan angkatan yang sangat seru dan kompak yang akhirnya bikin aku betah saat kuliah dan jarang sekali merasa homesick. Tapi semuanya berubah saat negara api menyerang, gadeng. Semuanya mulai berubah saat masa-masa pengerjaan tugas akhir atau sebut saja semester tujuh.

Semester tujuh sebenarnya aku juga sudah disibukkan dengan pekerjaan, tapi tetap saja saat semuanya mulai berantakan harus menyelesaikan pekerjaan tapi dikejar juga dengan deadline pengumpulan proposal tugas akhir waktu itu, disitu aku mulai merasa aku butuh teman ngobrol.

Aku bukan tipikal yang punya teman dekat sedekat-dekatnya, waktu itu juga jomblo (sekarang tentu saja tidak, sorry folks) dan aku memang kurang dekat dengan keluarga. Alhasil, semua keluhan-keluhan yang aku alami diatas kemakan sendiri dan lumayan menyakitkan. Malam demi malam banyak sekali dihabiskan dengan menitihkan air mata mungkin juga hal ini menjadi sesuatu yang biasa bagi millennials saat “anxieties” kumat semua. Tapi bukan berarti tidak ada yang menanyakan kabar, tetap ada tentu saja tapi balik lagi aku memilih diam karena untuk berbagi cerita yang sifatnya personal aku cenderung memilih orang yang juga menceritakan cerita personal mereka kepadaku, disitu baru aku bisa melakukan yang sama.

Hal-hal ini pun juga berlanjut dan berlanjut terus sampai pada puncaknya di akhir 2018 saat merayakan tahun baru. Masih teringat jelas sekali waktu itu aku menghabiskan malam tahun baru bersama teman-temanku, yang dimana saat itu jumlahnya ganjil. Makan malam pun kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran Italia di daerah Ubud. Sebenarnya disitu kami sudah tahu porsi makanan yang disajikan di restoran ini lumayan banyak jadinya kami memutuskan untuk sharing makanan. Kemudian muncul sebuah ide untuk memesan berdua sedangkan jumlah orang disitu ganjil dan tentu saja saat aku sempat bilang “aku sama siapa?”, semuanya diam. Yup, mungkin terdengar sedikit drama wanitanya tapi yasudahlah. Buat teman-temanku yang baca ini juga tidak apa-apa, aku no hard feeling.

Poinnya adalah dari momen diatas aku sudah menyadari kalau aku tidak punya teman dekat. Apalagi yang mesti aku pertaruhkan untuk tinggal di Bali. Pekerjaan sudah tidak mendukung, hubungan pertemanan juga mulai longgar dan sebenarnya aku punya saudara tiri di Bali tapi ya seperti yang aku katakan diatas kalau aku kurang dekat dengan keluarga jadinya memang aku tetap memutuskan untuk tinggal sendiri.

Terbang ke Jakarta

This image has an empty alt attribute; its file name is photo-1555333145-4acf190da336
Sumber: Unsplash @bayusyaits

Sampailah aku di kota ini, Jakarta. Sebuah kota yang waktu SMA sangat aku hindari sekali karena sempat menjadi salah satu opsi untuk melanjutkan kuliah. Aku juga sempat memilih untuk menganggur satu tahun lagi dibandingkan harus kuliah di Jakarta (waktu itu dalam kondisi sudah punya tiket lolos tes di salah satu Universitas Swasta), tapi alhamdulillah tidak jadi menganggur dan lolos untuk melanjutkan studi di Universitas negeri di Bali.

Sejak kecil saat pertama kali mengunjungi kota ini ditahun 2008 ada satu kesan yang tidak pernah hilang dari memoriku, sumpek. Ya, itu juga yang menjadi alasan utamaku kenapa menolak untuk kuliah di Jakarta.

Terus kenapa jadinya pindah kesini?

Aku sempat mendapatkan pandangan dari seorang teman kuliah juga yang pindah ke Jakarta karena alasan karir. Dia mengatakan “ngapain setengah-setengah? Mending sekalian ke Jakarta aja”, kalimat tersebut juga cukup menantang aku untuk melakukan hal yang sama dan disinilah aku sekarang.

Jakarta juga menjadi tempat aku memulai “lembaran baru”. Sampai kesini satu-satunya orang terdekat yang aku punya adalah kakakku. Untungnya kakakku ini tidak pendiam seperti aku jadinya dia selalu menjadi yang inisiatif untuk ajak aku tiap kali dia pergi, ngenalin ke teman-temannya dll.

Aku tidak memiliki banyak teman di Jakarta pada awalnya, hanya teman kantor yang cuma enam orang dan semuanya pria dan beberapa teman sedari kecil (SMP). Jadi aku sangat berterima kasih sekali ke kakakku ini karena membuat hari-hariku lebih berwarna saat awal-awal tinggal di Jakarta sebelum akhirnya aku bisa lebih sering keluar bersama teman-temanku yg sedari bocah yang aku sudah sebutkan juga diatas.

Selama di Jakarta entah kenapa aku kurang tertarik untuk mencari “circle baru” padahal umurku terbilang early 20’s. Bahkan aku lebih memilih ikut bersama kakakku dan teman-temannya yang mana umur mereka sangatlah jauh dari umurku ya meskipun aku banyak diam juga sih hahaha.

Masuk akhir tahun 2019 aku mulai gabung ke komunitas lagi dan akhirnya mulai kenal sebagian dan tau rakyat Indonesia yang tentu saja keren banget. Mulai dari situ ya setidaknya bisa menutup tahun 2019 dengan tenang dan tidak seburuk yang sebelumnya aku bayangkan tinggal Jakarta punya temen juga cuma itu-itu saja.

Masa Karantina

This image has an empty alt attribute; its file name is tenor.gif
Source: Tenor

Tahun 2020 sebenarnya aku juga tidak berharap banyak karena memang sejauh ini aku orangnya cenderung spontanitas dan tidak memiliki rencana selama setahun mau ngapain, dibiarkan mengalir saja. Tapi tentu saja tidak ada satupun dari kita yang mengharapkan situasi seperti saat ini.

Tahun ini juga sebenarnya diawali aku punya satpam. Sebuah topik yang sudah lama sekali dan rasanya aku lumayan sangat amat malas untuk dibahas, karena aku terlalu mencintai diri sendiri dan mencintai kebebasan yang sedari bocah sudah aku dapatkan. Sebenarnya tidak menutup diri cuma bukan tipikal yang caper ke orang lain. Sampai akhirnya aku ketemu satpam ini. Satpamku ini lumayan dewasa diumurnya yang sebenarnya tidak jauh dari aku (disclaimer: dia lebih tua) yang menjadi alasan juga aku tidak menolak hehehe. Aku lumayan susah menemukan orang yang bisa mengimbangi berpikir lebih dewasa dari aku diumur yang sebenarnya masih muda ini (selain boros wajah, aku juga boros pandangan hidup). Anyway, enough being cheesy.

Kemudian dilanjutkan aku bertambah usia di bulan Maret kemarin. Bukan sesuatu yang aku banggakan dan bukan juga sesuatu yang menyenangkan. Bahkan bagiku, ulangtahun adalah momen untuk merenungi semua kegagalan setahun terakhir, setidaknya begitulah caraku merayakannya selama ini. Setelah ulangtahun, pandemi pun melanda Indonesia khususnya Jakarta.

Aku tidak bisa bilang kalau aku 100% baik-baik saja. Karena seperti yang aku bilang diatas kalau aku tipikal yang tidak banyak cerita ke orang lain alias suka memendam sendiri. Aku juga sempat merencanakan untuk mulai mencari psikolog di bulan April tapi karena pandemi, jadi terpaksa aku harus menunda sambil menimbang ulang lagi apakah aku benar-benar membutuhkan bantuan. Salah satu cara aku menyalurkan hal-hal yang tidak biasa ini adalah dengan menulis ke catatan. Yup, mungkin terlalu old school untuk masih punya sejenis “diary”, tapi aku hanya melakukan apa yang bekerja buat aku.

Penutup

Sepertinya dibagian akhir terkesan sedikit terburu-buru tapi aku juga sudah bingung mau ngobrol apa lagi.

Aku hanya punya harapan, setidaknya berlaku untuk hari ini mungkin besok bisa bertambah lagi. Aku ingin semua ini cepat berakhir dan berakhir dengan keadaan seperti sebelum pandemi melanda.

Karena ini masih suasa lebaran, aku juga mau mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Aku berharap kita semua diberikan kekuatan dan kesehatan sampai kondisi ini berakhir. Stay sane, folks

Terima kasih sudah membaca tulisanku ini di yang baru selesai di pukul 3.13 WIB.